"Maaf, aku terlambat. Bisa kita mulai sekarang?" Ji Heon tersenyum
Semua terkejut. Moo Won terlihat kesal dan Eun Seol tersenyum senang.
Bagaimana bisa?
Flasback, 7 jam yang lalu.
Eun Seol membangunkan Ji Heon dengan menarik selimutnya hingga Ji Heon terjatuh dan Eun Seol terkejut. Bukan karena Ji Heon jatuh tetapi karena Ji Heon memakai celana pendek yang diberikannya. haha
Ji Heon langsung bangun karena malu. Tapi Eun Seol mengabaikan rasa malu Ji Heon karena ia sudah melihat sebelumnya. Tak mempedulikan Ji Heon yang berteriak padanya lalu menyeret Ji Heon keluar kamar dengan kasar.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Ji Heon pada Eun Seol
"Akhirnya aku menemukan sebuah solusi." jawab Eun Seol
Lalu Eun Seol mendorong Ji Heon masuk ke dalam mobil dengan kasar.
Hasilnya, Ji Heon dapat memberikan presentasi dan ide yang bagus dan membuat peserta rapat terkejut. Presdir Cha terlihat senang akan presentasi anaknya itu. :)
Tak sengaja peserta rapat menyenggol Ibu Moo Won dan kesempatan itu ia gunakan untuk membalas Presdir dengan menginjakkan hak tingginya ke kaki Presdir.
Presdir Cha menjerit kesakitan dan bertanya mengapa kakak iparnya begitu kekanak-kanakkan seperti ini? Kakak iparnya berkata kalau ia memang seperti ini jadi adik iparnya jangan membuat masalah lagi dengannya.
Ibu Moo Won masuk ruangan Moo Won, dia menumpahkan semua kekesalannya pada anaknya itu tapi Moo Won tak mempedulikannya.
Sementara itu, Eun Seol berlari dengan gembiranya, ia tidak dapat menyembunyikan kesuksesannya hari ini. Ia menemui Ji Heon, Sekertaris Kim dan Myung Ran lalu Eun Seol memeluk mereka dan berterima kasih atas kerja keras mereka.
Tapi saat memeluk Ji Heon (yang sudah siap untuk di peluk, haha), ia memikirkan kembali apa yang terjadi semalam, begitu juga dengan Ji Heon.
Mereka langsung melepaskan pelukan dan Eun Seol meminta Ji Heon untuk datang ke pertemuan. Tapi Ji Heon tidak mau. Tapi Eun Seol memintanya datang karena kalu tidak Presdir akan memarahi Eun Seol. Mendengar itu, Ji Heon langsung menyanggupinya.
Mendengar itu sekertaris Kim kaget akan perubahan Ji Heon, karena saat dirinya masih menjadi sekertaris Ji Heon, Ji Heon membiarkan dirinya di marahi Presdir Cha daripada hadir di pertemuan perusahaan.
"Tapi No Eun Seol, apa kau juga ikut ke pertemuan?" tanya Ji Heon
Eun Seol menjawab kalau semua sekertaris seniornya sudah pergi ke sana, jadi dia kembali ke ruang rapat untuk membersihkan. Ji Heon menyuruh Eun Seol setelah membereskan semuanya segera langsung pulang dan beristirahat.
"Apa urusannya urusanmu jika dia tidur atau pergi ke tempat lain? Apa kau juga harus ikut campur untuk hal seperti itu?" Jawab Myung Ran
Myung Ran langsung memukul Ji Heon tapi dengan sigap Ji Heon menghindarinya. Dan Ji Heon segera pergi.
Eun Seol membereskan ruang rapat dan ia masih tak dapat menyembunyikan kegembiraannya melihat layar yang masih menyala dan teringat Ji Heon saat sedang presentasi dengan percaya diri.
Moo Won duduk di ruangannya yang masih kecewa dengan hasil presentasi tadi. Ia keluar ruangannya dengan mood yang jelek tapi terhenti karena ia mendengar suara nyanyian Eun Seol. Moo Won tertawa melihat gaya Eun Seol saat menyanyikan lagu tentang dirinya sebagai sekertaris sejati.
Akhirnya Eun Seol menyadari kalau ada yang melihat aksinya. Ia kaget melihat Moo Won, tangan Eun Seol yang penuh sabun gemetaran memegang piring.
"Maaf, aku pasti mengagetkanmu." kata Moo won dengan masih tersenyum.
"Tadi itu benar-benar menarik, jadi aku mendengarkannya sebentar." lanjut Moo Won
Eun Seol mengira semua orang pergi ke pertemuan dan tidak ada orang di kantor. Eun Seol yang gemetaran, meletakkan piring di bak cuci agar tak pecah tapi saking groginya, ia menggenggam piring itu terlalu erat hingga piring itu pecah. wkwkwk :))
Moo won mengajak Eun Seol makan bersamanya dan Eun Seol pun mengiyakan.
Namun, saat di restoran Moo Won keliahatan tak bersemangat untuk makan.
"Apa ada masalah?" tanya Eun Seol
"Ya, ada sedikit masalah. Aku dimarahi." jawab Moo Won
"Siapa yang berani memarahi Direktur?" jiwa preman Eun Seol muncul. "Biarkan wanita kuat ini memberikan pelajaran." lanjutnya. "Siapa itu? siapa? siapa?"
"Ibuku." jawab Moo Won
Nyali Eun Seol langsung menciut, Moo Won pun tertawa melihat Eun Seol yang salah tingkah, dan Moo Won curhat pada Eun Seol.
Selama ini ia mencoba menjadi anak baik. Dia sudah melakukan yang terbaik. Namun ia tak tau bagaimana mempertahankannya. Eun Seol memberikan saran dengan memberikan analogi tentang dua orang anak. Yang satu selalu pulang tepat waktu. Suatu ketika saat ia pulang jam 10 malam, anak itu menjadi anak nakal. Sementara anak lain selalu pulang tengah malam. Dan suatu ketika ia pulang jam 10 malam, ia akan di sambut dengan kasih sayang. Moo Won mengerti analogi yang diberikan Eun Seol.
"Hanya .. sedikit saja sesekali menunjukkan pemberontakan, tidak buruk kan?" sahut Eun Seol
Moo Won pun setuju, ia beranjak pergi dengan antusias. Namun ia berhenti di tengah jalan membuat Eun Seol menabraknya.
"Bagaimana aku melakukannya?" tanya Moo Won
"Aku sudah lama tak melakukannya, jadi aku tak mengingatnya dengan baik." jawab Eun Seol
Eun Seol membawanya ke jalanan umum, namun Moo Won langsung menciut karena ia sangat dikenal luas di lingkungan bisnis. Kemudian Eun Seol membawanya ke tempat bermain, namun Moo Won tetap menolaknya.
"Bahkan di twitter, sebagian menunjuk aku sebagai pangeran di dunia keuangan." kata Moo Won sambil menutupi wajahnya.
Eun Seol langsung teringat dengan perilaku Ji Heon yang mirip dengan Moo Won sekarang ini. Ia tak dapat menahan kegeliannya pada dua sepupu yang berbeda tetapi memiliki kesamaan. Sama-sama tak nyaman di tempat umum. :D
Akhirnya Eun Seol membawanya ke kios kacamata. berbagai kacamatapun mereka coba.
Dengan menggunakan kacamata, mereka menikamati kehidupan malam Seoul dari menonton musik jalanan hingga minum bir. Tanpa mereka sadari ada seseorang yang mengambil gambar mereka.
Ternyata ayah Ji Heon juga minum. Ji Heon membawa pulang ayahnya yang sudah mabuk, bersama nenek ia membawa ayahnya berbaring di kamar.
Dalam keadaan mabuk, ayah Ji Heon mengatakan kalau ia sudah tidak peduli dengan urusan Eun Seol dan Sekertaris Kim dan menyerahkannya pada Ji heon. Ji Heon menyanggupinya namun ia mengingatkan ayahnya agar tak melupakan saat ayahnya sadar nanti.
"Jika itu terjadi, maka aku adalah anakmu!"
Ji Heon menerima dengan senang hati. Tinggal nenek yang mengeluh akan kelakuan anaknya yang seperti itu. Nenek melepas jas dan kaos kaki ayah Ji Heon. Nenek kaget saat melepas kaos kaki karena ada lebam di ayah Ji Heon. Ayah Ji Heon mengaku kalau itu disebabkan oleh adik iparnya.
Ji Heon yang sudah di tempat tidur dengan ponsel di tangan, ia kan menelepon atau SMS Eun Seol tapi ragu-ragu.
Tiba-tiba ponsel Ji Heon berdering dan wajahnya pun langsung sumringah. Tapi dia langsung berubah karena mendengar Eun Seol sedang bersama Moo Won yang sedang mabuk.
Ji Heon mencari-cari dan sesampainya di lokasi, Ji Heon menjerit karena melihat Moo Won sedang mengelus-ngelus kepala Eun Seol.
"Kepala No Eun Seol adalah milikku!" teriak Ji Heon
Ji Heon malah memarahi Eun Seol yang tak mendengarkan perintah Ji Heon tadi.
"Apa kau ingin menggodanya?" kata Ji heon kesal (tapi lucu ^^)
Belum sempat Eun Seol menjelaskan yang sebenarnya, mereka dikejutkan Moo Won yang muntah.
Akhirnya Ji Heon mengantar Moo Won pulang dan ibu Moo Won mengomeli Ji Heon yang di sangka telah meracuni anaknya melakukan hal yang tak baik. Ji Heon tak menanggapi omelan ibu Moo Won dan menganggap itu sebagai rasa terima kasih. Ia meminta pada bibinya itu untu menyampaikan pesannya untuk tidak mengambil milik orang lain. Jika Moo Won tidak berhati-hati maka dia akan mati di tanganku, ancam Ji Heon. Jelas aja ibu Moo Won langsung kaget dengan sikap Ji Heon.
Ji Heon melampiaskan kekesalan pada Eun Seol yang menunggunya di dalam mobil.
Di jalan ketika Ji Heon hendak mengantarkan Eun Seol pulang, dia tak mengatakan apapun. Eun Seol membuka kaca mobil tetapi anginnya terlalu kencang, Eun Seol pun menutupnya tetapi Ji Heon menaikkannya kembali. Dan terjadilah adu kekuatan antara mereka berdua dan dimenangkan oleh Ji Heon yang akhirnya mengunci jendela itu hingga tetap terbuka.
Dengan wajah tak bersalah, Ji Heon malah berkata kalau ia masih bermurah hati mengantarkan Eun Seol yang tak pernah mendengarkan perintahnya dan mengkhianatinya. Eun Seol membalasnya dengan mengatakan kalau wajahnya seperti ini adalah ucapan terima kasihnya.
Eun Seol keluar dari mobil dan diikuti Ji Heon. Ji Heon bertanya apa ia masih akan dekat dengan Cha Moo Won? kau tidak benar-benar menyukainya kan?
Lalu Eun Seol pun bertanya "Apa aku benar-benar ada dalam pikiranmu, Direktur? apa kau menyukaiku?"
Ji Heon pun mengaku kalau dirinya menyukai Eun Seol.
Dan Ji Heon meminta untuk menjawabnya sekarang. Jantung Eun Seol berdetak kencang, dan ia memegang dadanya seolah menenangkan dan Eun Seol pun menjawab "tolong kembalikan kewarasanmu secepat mungkin."
Ji Heon pun tak terima dengan jawaban Eun seol, ia pun mengejar Eun Seol dan bertanya bagaimana mungkin Eun Seol tega melukai perasaannya? apa ia tak punya hati?
Eun Seol pun memberikan alasannya, pertama ia tak mau orang berpikir kalau dirinya adalah sekertaris yang menggoda bossnya. Kedua, Jika Presdir Cha mengetahui Ji Heon menyukai gadis seperti dirinya, walaupun sekarang Presdir menyukainya, Presdir akan menguburnya di tengah-tengah samudra pasifik.Dan alasan yang ketiga, ia memang menyukai Ji Heon tapi hanya sebatas atasan dan bawahan tak lebih dari itu.
Ji Heon tak mengatakan apapun, dia hanya menggigit kuku.
Eun Seol menyesal karena sudah menyakiti perasaan Ji Heon tapi ia lebih mengkhawatirkan pekerjaannya di kantor dan tak mau kehilangan kartu karyawannya.
Ia meminta Ji Heon untuk segera kembali kewarasannya. tapi Ji Heon tak mau.
"Lalu apa yang harus dilakukan? Apa kau benar-benar ingin aku mengundurkan diri?" sahut Eun Seol
Ji Heon kaget, "Apa kau mengancamku sekarang?"
Eun Seol pun membenarkan. Ji Heon panik dan berkata kalau ia akan memikirkannya lagi, asal Eun Seol tak mengancam akan keluar. Eun Seol berterima kasih dan meminta Ji Heon agar memikirkan kembali semuanya dan kewarasannya harus kembali. Eun Seol berbalik dan meninggalkan Ji Heon. Ji Heon pun bolak-balik ingin mengejar Eun Seol tapi selalu diurungkannya.
Akhirnya ia jongkok lalu menghela nafas panjang untuk menenangkan hatinya.
Eun Seol pun demikian, menghela nafas lalu memeluk Myung Ran.
"Apa yang harus aku lakukan?" kata Eun Seul dengan hati yang galau. #eeaa
"kalau itu aku, aku akan menerimanya." jawab Myung Ran, lalu menenangkan sahabatnya itu.
Sementara Ji Heon, di kamarnya ia jongkok di depan gambar Eun Seol lalu melemparkan paser ke gambar Eun Seol, melampiaskan kekesalannya.
Ia hanya berpura-pura akan mempertimbangkan keputusannya. Lalu Ji Heon menempelkan handsaplast pada gambar Eun Seol yang berlubang. LOL
Keesokkan harinya, Moo Won terbangun dan teringat saat dia mengelus-ngelus kepala Eun Seol, lalu mendesah dan bersembunyi di dalam selimut. Dan dia juga teringat ia muntah di hadapan Ji Heon.
Ibu Moo Won menyiapkan sarapan untuk Moo Won dan meminta maaf karena melampiaskan amarahnya ke Moo Won. Ia juga meminta agar ia tak keluar bersama Ji Heon lagi karena standar Moo Won bisa turun dan Moo Won pun mengiyakan.
Ji Heon dan Eun Seol mempunyai pikiran yang sama untuk membuat pihak lain mempertimbangkan keputusan.
Ji Heon berdandan sekeren mungkin dan Eun Seol berdandan seperti itik buruk rupa. Setiap hari Ji Heon memilih berdandan sekeren mungkin (menurut Ji Heon) sedangkan Eun Seol berpenampilan yang akan membuat orang memicingkan mata (gaya bangun tidur lah, yang gak keramas lah, sampai gaya premannya saat di SMA).
Saat Eun Seol dan Ji Heon berjalan mereka bertemu Moo Won dan sekertarisnya.
Namun Moo Won bersikap acuh tapi tetap usil, karena saat berpapasan Moo Won menyentil kacamata Ji Heon ke atas. Untung Ji Heon langsung menangkapnya.
Presdir Cha sangat puas dengan ide yang dipresentasikan Ji Heon.
Respon yang datang pun juga memuaskan. Ia menyuruh Sekertaris Jang untuk mempublikasikan kinerja Ji Heon di media massa dengan foto yang paling besar. Ternyata Ibu Moo Won juga melakukan hal yang sama. Dan akhirnya Moo Won dan Ji Heon sama-sama muncul di surat kabar yang sama dan hari yang sama. Namun foto dan berita Moo Won jauh lebih besar daripada Ji Heon. Presdirnya kesal setengah mati melihatnya, ia menghujat saudara iparnya dan menendang-nendang kursi mobil yang di duduki sekertarisnya.
Sekertaris Kim berterima kasih pada Ji Heon karena ia dapat bekerja kembali pada Ji Heon. Walaupun ia sedikit mengeluh karena bekerja pada Ji Heon karena ia harus berbicara formal pada Ji Heon yang telah ia anggap sebagai temannya. Ji Heon pun mengusulkan agar sekertaris Kim tak bekerja lagi dengannya agar ia dapat bicara informal dengannya.
Saat Eun Seol datang, Ji Heon dengan sengaja dan jelas mengatakan pada sekertaris Kim agar menangani proyek online 'smart working' sendiri karena saat ini ia akan berhenti bekerja. Eun Seol yang tau maksud Ji Heon meminta waktu pada sekertaris Kim untuk berbicara empat mata pada Ji Heon.
Eun Seol mengatakan kalau ancaman Ji Heon sangat menyebalkan. Ji Heon tau itu dan ia juga tau kalau ancaman Eun Seol untuk mengundurkan diri juga pura-pura, karena pekerjaan ini sangat penting bagi eun Seol. Jadi kali ini Ji Heon yang mengancam Eun Seol.
"Sebelum No Eun Seol menjadi gila, aku tak mau bekerja dan tidak akan menjadikanmu karyawan tetap." ancam Ji Heon
Ancaman itu membuat Eun Seol mengangkat kepalan tangannya ingin memukul Ji Heon, membuat Ji Heon sedikit mundur. tapi niat Ji Heon tidak akan mundur karena ia tau bahwa Eun Seol paling benci melihat ia tak bekerja. Eun Seol hanya bisa mengangkat kepalan tangannya dengan wajah putus asa.
Sementara itu sekertaris Kim yang keluar dari ruangan Ji Heon bertemu dengan Presdir Cha.
Presdir Cha pun teringat pada sekertaris Kim, orang yang membocorkan aksi kekerasannya. Ia pun mengejar sekertaris Kim diikuti sekertaris Jang di belakangnya, namun Presdir Cha terlambat beberapa detik karena sekertaris Kim berhasil meloloskan diri masuk ke dalam lift yang hampir tertutup.
Ji Heon mengingatkan kembali ucapan ayahnya saat mabuk. Urusan sekertaris Kim dan Eun Seol diserahkan sepenuhnya pada Ji heon kalu tidak maka Presdir Cha akan menjadi anak Ji Heon. Presdir Cha hampir marah mendengarnya, namun ada lagi ucapan Ji Heon yang membuatnya panas.
Ji Heon yang teringat pada ucapan Eun Seol akan kriteria bos yang baik, berencana akan membayar pajak penuh dengan nilai yang sebenarnya. Ayah menganggap Ji Heon mengada-ngada. Apa Ji heon tak takut akan kelangsungan nilai saham perusahaannya? Tapi niat Ji Heon sudat bulat karena ia tak ingin duduk di kursi roda berpura-pura sakit untuk menghindari pemeriksaan.
Ayah menganggap ucapan Ji Heon menyindirnya. Ia sudah mau marah lagi, tapi Ji Heon mengatakan bahwa ia berencana cuti sementara waktu untuk mengisi ulang dirinya.
Presdir Cha tak dapat mengendalikan amarahnya. Bagaimana mungkin Ji Heon ingin cuti hanya karena telah melakukan pekerjaan yang sepele? Tapi dengan senyum, Ji Heon meyakinkan ayahnya kalau ia akan melakukan sesuatu yang sangat penting baginya. Dan ia pun kabur meninggalkan ayahnya.
Manajer Park, yang tadinya ikut meeting dengan Presdir Cha dan Ji Heon dengan mengendap-mengendap di suatu tempat dan sebuah mobil datang menjemputnya. Ternyata itu mobil ibu Moo Won dan manajer Park pun melaporkan hasil meeting tadi pada ibu Moo Won. (wooo .. busuk! :p )
Dan memberikan informasi kepemilikan saham Presdir Cha, ibu Moo Won heran kenapa saham mereka terus naik?
"Itu tikus tanah, Direktur Shin." manajer Park mengingatkan
Tapi ibu Moo Won tak mempedulikan dan tetap memukulinya dengan penuh semangat.
Ayah Eun Seol yang sedang mengumpulkan jamur di hutan, ia tak menyadari kalau ada yang sedang mengambil gambar dirinya.
Ternyata orang yang mengambil gambar tersebut adalah orang suruhan ibu Na Yoon yang ingin mengetahui latar belakang Eun Seol. Ia memberikan foto-foto itu pada Na Yoon yang langsung meminta ibunya untuk menghentikan aksi mata-matanya. Apalagi ibunya akan memperlihatkan foto-foto tersebut pada Ibu Moo won dan Ayah Ji Heon karena akan membuat Na Yoon tampak menyedihkan.
Ibu Na Yoon menolaknya dan ingin segera menemui ibu Moo Won, Na Yoon pun menjadi panik dan tak sengaja memiting tangan ibunya, membuat ibunya berteriak kesakitan.
Na Yoon langsung melepaskan dan meminta maaf lalu mengaku kalau ia akhir-akhir ini belajar beladiri karena dunia sekarang sudah tak aman dan ia harus mulai bisa menjaga diri, Na Yoon beralasan karena saat berbicara seperti itu ia teringat akan pengalamannya yang ditimpuk kaleng kosong oleh Eun Seol. haha .. Dan Na Yoon mengatakan kalau ia akan mengatasi masalahnya sendiri.
Caranya?
Na Yoon menemui Eun Seol dan mengatakan niatnya untuk kembali pada Ji Heon, karena pernikahannya itu tidak hanya menguntungkan perusahaan tapi karena ia memang suka pada Ji Heon, Eun Seol pun lega mendengarnya, lalu berkata "apa yang harus aku lakukan?"
"kau harus menjauh dari Ji Heon." jawab Na Yoon
Tapi Eun Seol tak bisa berjanji karena ia adalah sekertaris dan asisten pribadi Ji Heon, tapi ia berjanji akan menghindari Ji Heon untuk urusan pribadi. Na Yoon menawarkan pekerjaan lain padanya, tapi Eun Seol menolaknya.
Ia tak ingin mendompleng dan melakukan nepotisme jika ia menerima pekerjaan Na Yoon. Tentunya Na Yoon juga memiliki perasaan seperti itu juga kan? karena Na Yoon adalah generasi kedua atau generasi ketiga dari keluarga yang berpengaruh. Na Yoon tersinggung mendengarnya karena ia merasa meraih kesuksesan itu hasil kerja kerasnya bukan karena keluarganya.
Kemudian Na Yoon menemui ayah Ji Heon yang sedang melakukan pelayanan masyarakat. Ia bersikap manis dengan menyarankan ayah agar menyuruh orang untuk menggantikannya. Tapi itu malah membuat Presdir marah, apalagi Presdir masih belum memaafkan Na Yoon dulu yang pergi tanpa meninggalkan pesan, dan karenanya Ji Heon .. Presdir tak sanggup melanjutkan kata-katanya.
Na Yoon mengatakan kalau peristiwa itu tidak sengaja dan bukan salah ia juga. Na Yoon mengaku kalau saat itu ia juga besalah, ia pun juga menderita merasakan akibatnya. Tapi ia berjanji akan melakukan lebih baik mulai sekarang.
Presdir berjanji kalau ia tak akan mencampuri urusan Ji Heon lagi. Namun Na Yoon tak mau menyerah begitu saja. Ia mengungkit masalah Eun Seol yang menjadi sekertaris Ji Heon, apa kata orang jika pria dan wanita selalu berdua-dua? Hal ini malah membuat Presdir marah dan memberitahu kalau pria tak suka jika Na Yoon ikut campur urusan kerja. Dan Presdir malah mengusir Na Yoon yang sudah mengganggu pekerjaan pelayanan masyarakatnya.
Malamnya, Eun Seol dan Myung Ran membicarakan Na Yoon yang disebutnya gadis es krim yang kemungkinan di sukai oleh Moo Neu Nim atau Dewa Moo, panggilan Eun Seol pada Moo Won. Kalau saja gadis es krim tak menyukai Ji Heon, ia akan mendukungnya 100%.
Myung Ran pun menggambarkan karikatur hubungan mereka di awang-awang. Moo Won menyukai Na Yoon, Na Yoon menyukai Ji Heon dan Ji Heon menyukai Eun Seol. Jika Eun Seol menyukai Moo Won (tangan Myung Ran menghubungkan gambar Eun Seol ke gambar Moo Won), maka hubungan cinta mereka akan menjadi cinta segiempat yang sempurna.
Tapi Eun Seol buru-buru menangkap tangan Myung Ran dan mengatakan kalau ia hanya menyukai dirinya sendiri.
Tapi setelah mengatakan itu, bayangan Ji Heon malah muncul di benaknya. hahaha :))
Eun Seol pun menjelaskan kalau ia dan Ji Heon tidak ada hubungan apa kecuali atasan dan bawahan, mendengar itu Presdir pun lega. Presdir meminta Eun Seol untuk terus membantunya dan menegaskan kalau sekarang ini adalah saat-saat penting bagi mereka. Jika Eun Seol berhasil membuat Ji Heon sukses, Eun Seol dapat memperoleh promosi besar-besaran yang hanya Presdir yang mampu melakukannya. Namun jika hasilnya sebaliknya, maka Eun Seol akan diberhentikan saat kontraknya berakhir.
Presdir Cha meminta bantuan Eun Seol bukan hanya untuk Ji Heon saja, tetapi juga demi dirinya sendiri yang sudah dibuat gila oleh Ji Heon. Dan itung-itung, Presdir Cha meminta bantuin ini sebagai ganti rugi pelayanan masyarakat yang selama ini ia lakukan. Ia percaya kalau Eun Seol mampu membantu Ji Heon untuk menjadi sukses.
Kata-kata Presdir Cha sangat membekas dan ia mendesah seperti membawa beban berat. Moo Won melihatnya berlalu, dan berniat untuk mengejarnya. Tapi ia menggelengkan kepala seakan ingin mengurungkan niat itu dan pergi berlawanan arah dengan Eun Seol.
Sekretarisnya menanyakan kelanjutan rencana Moo Won untuk menggunakan Eun Seol menjadi mata-matanya, tapi Moo Won mengatakan rencana itu sudah gagal sejak dulu.
Eun Seol masih memikirkan ucapan Presdir Cha dalam perjalanan pulangnya di dalam bis. Tiba-tiba seorang pria berdiri di belakangnya dan mulai melakukan pelecehan padanya. Ia langsung menyikut pria itu sehingga pria itu langsung jatuh tersungkur.
Sementara itu Ji Heon menepati kata-katanya. Ia sedang bermalas-malasan di rumahnya, namun hal ini tak membuatnya senang karena ia merindukan Eun Seol.
Tiba-tiba ia mendapat telepon dari Myung Ran.
Tiba-tiba ia mendapat telepon dari Myung Ran.
Ternyata Myung Ran meneleponnya karena Eun Seol sedang ada di kantor polisi karena kasus pemukulan yang baru saja ia lakukan. Myung Ran meminta damai saja, tapi Eun Seol tak mau karena mereka tak mampu membayarnya. Tapi ada orang yang sanggup. Dan orang itu sekarang berlari sambil berteriak,
Di luar pria itu berterima kasih karena mendapat uang ganti rugi yang sangat besar. Tapi Ji Heon mengatakan kalau sekarang ini tak ada makan siang yang gratis. Uang sebesar itu diberikan karena ia juga akan menghajarnya.
Ji Heon melayangkan pukulan ke pria itu, tapi pria itu berhasil bangun dan membalasnya. Eun Seol yang tak terima, kembali melayangkan tinjunya pada pria itu. Dan kali ini pria itu tersungkur jatuh untuk kedua kalinya. Ji Heon dan Myung Ran menatap Eun Seol kagum.
Akhirnya Ji Heon dan Eun Seol bicara empat mata lagi. Mengenai perasaan Ji Heon, Eun Seol akan mempertimbangkan kembali, jadi ia minta agar Ji Heon kembali bekerja. Dengan riang, Ji Heon menyanggupinya.
Tapi sesuai permintaan ayah Ji Heon yang ingin membuat Ji Heon menjadi orang sukses, Eun Seol akan mereformasi Ji Heon, termasuk sindrom panik saat bicara di depan publik. Dan pekerjaan itu bukan hal yang ringan bagi Ji Heon.
Dengan semangat tinggi Ji Heon tetap menyanggupinya. Eun Seol yang mencoba untuk menggoyahkan kemauan Ji Heon mengatakan kalau ia tak akan bersikap lunak pada Ji Heon. Tapi, Ji Heon tetap bersedia melakukannya, membuat Eun Seol menggerutu kesal.
Nenek kembali kehilangan barang miliknya. Sekarang nenek kehilangan mobilnya. Dan kali ini sepertinya nenek sudah dapat menduga siapa yang mengambil mobilnya itu.
Daan yang mengambil mobil nenek adalah Ji Heon yang sekarang sedang menyetir mobil nenek dan bergoyang riang mengikuti irama musik.
Ji Heon juga menelepon Moo Won dan dengan sedikit sombong mengatakan kalau sebentar lagi ia akan sibuk karena ia akan bekerja bersama dengan Eun Seol. Jadi ia memperingatkan Moo Won agar jangan dekat-dekat dengan Eun Seol dan menganiaya Eun Seol lagi.
Ji Heon juga menelepon Moo Won dan dengan sedikit sombong mengatakan kalau sebentar lagi ia akan sibuk karena ia akan bekerja bersama dengan Eun Seol. Jadi ia memperingatkan Moo Won agar jangan dekat-dekat dengan Eun Seol dan menganiaya Eun Seol lagi.
Ji Heon menemui Eun Seol dan Myung Ran yang baru saja pulang jogging. Myung Ran tak dapat meyembunyikan kekesalannya karena mereka bertemu lagi setelah satu jam yang lalu bertemu.
Tapi kekesalan Myung Ran berakhir sedemikian cepat karena Ji Heon melemparkan kunci mobil (neneknya) pada Eun Seol. Ia menyuruh Eun Seol memakainya dan menyuruhnya datang kapanpun ia meminta. Dan Myung Ran tak boleh menaikinya karena mobil ini hanya untuk pekerjaan saja.
Myung Ran mencibir karena Ji Heon tak tahu aturan mainnya. Kalau Ji Heon tak berbaik-baik padanya, maka Ji Heon sendiri yang rugi. Ji Heon pun mengalah.
Tapi Eun Seol yang tak mau mobil itu. Ia mengembalikan kunci mobil itu dan mengatakan kalau ia lebih suka naik kendaraan umum. Tapi Ji Heon mengkhawatirkan Eun Seol yang selalu mendapat masalah di luar seperti kejadian di bus sampai kehilangan sepatu. Myung Ran yang tak mau kehilangan mobil itu kemudian mengambil kunci itu namun ditahan oleh Eun Seol. Mereka bertengkar terus sampai akhirnya Ji Heon berteriak meminta mereka berhenti bertengkar.
Kesempatan itu dipakai Myung Ran untuk mengambil kunci itu. Ji Heon tersenyum melihatnya. Ia bertanya apakah rencana reformasi dirinya sudah siap, karena ia sudah siap. Eun Seol mengatakan belum siap karena ia masih harus mempelajari penyakit Ji Heon. Ji Heon kemudian meminta agar diantar pulang ke rumah.
Saat sampai di depan rumah Ji Heon, Eun Seol mengembalikan kunci mobilnya pada Ji Heon. Tapi Ji Heon menawarkan Eun Seol untuk mampir dulu ke rumah karena ia memiliki bahan-bahan yang diperlukan Eun Seol untuk menyembuhkan penyakit panik di depan umum.
Sementara itu ibu Na Yoon menemui ibu Moo Won. Namun sikap dinginnya tak luput dari pengamatan ibu Moo Won. Maka ibu Na Yoon menyerahkan foto-foto yang telah ia kumpulkan dan mengatakan kalau ia tak tahu tentang hubungan Moo Won dan gadis lain. Tapi ibu Moo Won malah tertarik pada foto Ji Heon yang sedang memukul pria yang melecehkan Eun Seol, dan ia tersenyum seperti mendapat ide.
Na Yoon menemui Moo Won dan memberikan foto-foto yang diberikan ibunya.
Ia juga memperingatkan kalau ibunya mungkin akan menunjukkan foto-foto itu pada ibu Moo Won. Walaupun ia merasa sepertinya Eun Seol berbohong tentang bisnis keluarganya yang ada di gunung. Moo Won mengatakan kalau Na Yoon salah mengartikan ucapan Eun Seol.
Ia juga memperingatkan kalau ibunya mungkin akan menunjukkan foto-foto itu pada ibu Moo Won. Walaupun ia merasa sepertinya Eun Seol berbohong tentang bisnis keluarganya yang ada di gunung. Moo Won mengatakan kalau Na Yoon salah mengartikan ucapan Eun Seol.
Na Yoon kesal dan mengatakan kalau ia memang selalu salah. Bahkan ia merasa menjadi bola yang ditendang kesana kemari untuk kesenangan orang lain. Moo Won mengatakan kalau ia tak pernah menganggap Na Yoon seperti itu. Tapi Na Yoon mengingatkan kalau Moo Won juga menendangnya saat Moo Won menolak keinginan keluarga mereka untuk menjodohkan mereka.
Moo Won mengingatkan kalau ia bukan menolak Na Yoon, tapi ia menolak pernikahan yang tanpa cinta. Jika Na Yoon mau menikah dengan hati, ia akan mempertimbankan kembali. Na Yoon agak terkesima dengan pengakuan Moo Won, antara percaya dan tak percaya.
Sementara itu Ji Heon memberikan setumpuk buku tentang penyakitnya. Eun Seol tak tahu harus bagaimana untuk membawanya pulang. Ji Heon menyarankan agar mengambilnya sedikit demi sedikit atau datang ke rumahnya setiap hari untuk membacanya. Atau ia akan membacakan untuk Eun Seol saja?
Eun Seol mengatakan kalau Ji Heon sudah membaca semua, mengapa penyakitnya tak bisa disembuhkan? Ji Heon menjelaskan kalau tak mudah baginya untuk menyembuhkan penyakit itu. Maka ia berniat untuk menunjukkannya.
Moo Won mengantarkan Na Yoon pulang. Na Yoon menangis, tak tahu apa yang harus ia lakukan dengan perasaannya. Moo Won mengatakan kalau mereka berdua memiliki kesulitan untuk menentukan pasangan hidup mereka. Namun ia mengatakan kalau Na Yoon sudah siap untuk melepaskan perasaannya, Na Yoon dapat datang menemuinya.
Moo Won menyentuh pipi Na Yoon dan mendekat untuk menciumnya.
Moo Won menyentuh pipi Na Yoon dan mendekat untuk menciumnya.
Sementara itu Ji Heon menunjukkan beberapa poin yang ada dibuku, membuat Eun Seol mengerti. Dan melihat Eun Seol berada di sampingnya, membuat Ji Heon tak kuasa untuk mendekatkan dirinya pada Eun Seol dan menciumnya.



















0 comments:
Posting Komentar