Ia berhenti saat melihat Ji Heon yang sedang asyik memperhatikan sesuatu.
Na Yoon tak mempercayai apa yang dilihatnya. Ji Heon tersenyum melihat Eun Seol yang sedang menikmati permainan. Moo Won mencoba mengalihkan perhatian Na Yoon dengan membicarakan masalah mereka tapi kecemburuan Na Yoon tak terbendung. Ia pikir Eun Seol pasti bukan sekedar sekretaris. Moo Won menasihati Na Yoon, akan sulit melawan Eun Seol.
Na Yoon menanyakan apa pekerjaan ayah Eun Seol tapi Moo Won tidak tahu. Na Yoon menganggap kekayaan dan statusnya lebih tinggi dari yang lainnya.
Na Yoon menghampiri Ji Heon dengan kesal. Eun Seol juga berlari menghampiri Ji Heon dan tak sengaja menabrak Na Yoon, tanpa menyadari telah menyebabkan es krim Na Yoon terantuk ke dadanya. Na Yoon tercengang melihat blusnya yang ternoda es krim.
Ditambah lagi melihat keakraban Ji Heon dan Eun Seol. Dengan penuh kemarahan, ia menghampiri mereka. Daan jleb! Es krim Na Yoon mengenai bokong Eun Seul. Bukan hanya bokong Eun Seul, waktu pun serasa membeku.
Eun Seol menoleh kebingungan. Ji Heon terperangah. Bahkan Na Yoon sendiri terkejut menyadari apa yang baru saja ia lakukan.
“Maafkan aku, tanganku terpeleset,” ujar Na Yoon kembali ke sikap angkuhnya. Moo Won mendekati mereka dan menanyakan keadaan Eun Seol.
“Aku akan membelikanmu yang baru,” kata Eun Seol sambil mengambil es krim yang dipegang Moo Won.
Jleb! rok Na Yoon berlumuran es krim. Eun Seol menatap Na Yoon tanpa merasa gentar sedikitpun.
Moo Won tak bisa menahan tawanya.
“Ini...apa yang kaulakukan?!” tanya Na Yoon yak percaya.
“Maaf, aku sengaja. Karena kau sengaja melakukan hal yang sama,” jawab Eun Seol.
“Hei!” seru Na Yoon.
“Aku punya nama,” ujar Eun Seol.
Keduanya membersihkan diri di toilet. Na Yoon berkata Eun Seol yang telah menabraknya duluan dan menyebabkan noda di bajunya. Itu tidak disengaja, sahut Eun Seol, tapi Na Yoon melakukannya dengan sengaja.
Na Yoon meminta Eun Seol bersikap lebih hormat padanya karena ia memiliki hubungan dekat dengan boss. Eun Seol tidak membantah hal itu tapi tetap saja Na Yoon bukan bosnya.
Na Yoon langsung menyerang Eun Seol.
Tapi itu hanya khayalannya saja. Ia menenangkan dirinya dengan mengingat kekuatan dari pendidikan yang selama ini ia terima.
Serangan berlanjut ke latar belakang Eun Seol. Na Yoon menanyakan pekerjaan ayah Eun Seol. Dia mengolah tanah (petani), memiliki beberapa murid (guru silat), dan kadang-kadang berburu di gunung (mencari makan), jawab Eun-seol jujur.
Lucunya Na Yoon malah pikir ayah Eun-seol: mengolah tanah->membuat bangunan, memiliki beberapa murid->banyak tukang, berburu di gunung->mencari lokasi. wkwkwk :D
“Jadi dia dalam bisnis konstruksi? Apa bagusnya?” gumam Na Yoon. Hah? Eun Seol kebingungan.
Ji Heon dan Moo Won menunggu para gadis.
Ji Heon bertanya apa Na Yoon suka bertindak tak rasional seperti itu. Tidak, jawab Moo Won, itu karena Eun Seol. Ji Heon mengangguk, “Ketika seseorang bertemu No Eun Seol, standar orang itu langsung jatuh.”
Na Yoon sepertinya cemburu pada Eun Seol, kata Moo Won. Kenapa, tanya Ji Heon tak mengerti. Karena Eun Seol cute, jawab Moo Won sambil tersenyum.
“Sama sekali tidak, karena kau belum melihat warna aslinya. Jangan katakan dia cute, sebaiknya kau bilang aku cute. Itu lebih masuk akal,” sahut Ji Heon.
“Baik. Kau super manis. Haha...” Moo Won tertawa. Ji Heon menyundul bahu Moo Won. Moo Won balas menyundulnya.
Eun Seol dan Na Yoon menghampiri mereka. Ji Heon buru-buru mengajak Eun Seol pergi, tapi Na Yoon menahannya. Bagaimana bisa Ji Heon pergi begitu saja setelah kejadian tapi, bukankah seharusnya Ji Heon membelikan baju baru atau mengantarnya pulang.
Ji Heon bilang ia sedang bekerja dan menyuruh Na Yoon pulang dengan Moo Won. Tapi Na Yoon malah ingin pergi ke kantor bersama, bukankah ia juga akan menjadi bagian dari perusahaan. Seluruh iklan perusahaan akan dikerjakan olehnya.
Siapa bilang, lowongan pekerjaan harus diumumkan oleh perusahaan, ujar Ji Heon.
Na Yoon tak peduli, pada akhirnya pasti dia yang mendapatkan perkerjaan itu. Kemampuannya adalah yang terbaik. Ji Heon menantang untuk melihat hasilnya saat lowongan itu diumumkan. Eun Seol mengangguk setuju dan mengikuti Ji Heon meninggalkan Na Yoon.
“Jika kau terus seperti itu, aku akan jadi gila! Semakin kau bersikap seperti ini, aku akan semakin mengganggumu! Tidak, aku akan mengumumkan langsung di koran kalau kita berdua telah bertunangan dan akan menikah besok. Aku akan melakukannya dan akan jadi gila!” ancam Na Yoon.
“Kau bukan akan jadi gila. Kau sekarang sudah gila,” sahut Ji Heon tenang.
“Benarkah? Itu semua karena kau, jadi kembalilah. Agar aku bisa kembali normal,” rengek Na Yoon putus asa. Ji Heon kebingungan.
Moo Won mengusulkan agar Ji Heon dan Na Yoon berbicara berdua, ia akan meminjam Eun Seol. Untuk apa meminjam dia, dia tidak berguna, kata Ji Heon. Kalau dia tidak berguna untukmu, biarkan aku menggunakannya, sahut Moo Won.
“Kenapa? Kau tidak bisa tanpa dia?” tantang Moo Won. Ji Heon tak bisa menjawab.
“Benar, jika direktur kami Cha Ji Heon tidak mempunyai seseorang yang tidak berguna sepertiku ini di sisinya, ia tidak bisa melakukan apapun,”sindir Eun Seol.
Ji Heon menyorongkan Eun Seol pada Moo Won, ini…mengapa kau tak meminjamnya untuk selamanya. Eun Seol mengajak Moo Won pergi. Maka merekapun meninggalkan Ji Heon dan Na Yoon. Tapi Ji Heon terus memandangi keduanya.
Moo Won meminta Eun Seol mengganti es krimnya. Eun Seol dengan senang hati menyetujui. Moo Won meminjamkan jasnya untuk menutupi noda di rok Eun Seol.
Ayah Ji Heon menerima laporan dari sekretarisnya mengenai kegiatan Ji Heon di taman hiburan. Ji Heon dan manager periklanan terlihat mengadakan inspeksi bersama. Ayah Ji Heon senang dan meminta sekretaris terus melapor padanya.
“kau bahkan tak mempercayai anakmu sendiri?” terdengar sebuah suara.
“Ibu !” seru ayah Ji Heon.
“Ibumu di sini. Mengapa kau memanggilku?” nenek Ji Heon muncul dari balik pohon.
“Ibu, apa kau seorang ninja? Memakai kacamata hitam dan mengapa kau di balik pohon?”
Nenek Ji Heon menegur ayah Ji Heon yang tak percaya anaknya sendiri. Jika ayahnya saja tak percaya, siapa yang akan percaya? Ayah Ji Heon tersenyum, apa ibu mempercayai anak ibu sendiri. Tentu saja, sahut nenek Ji Heon sambil masuk ke dalam rumah.
Sekretaris melanjutkan laporannya. Manajer periklanan yang baru adalah Seo Na Yoon. Na Yoon? Presdir Cha mengerutkan kening.
Ji Heon menjerit kaget saat masuk kamarnya.
Ia minta ayahnya tidak masuk ke kamarnya diam-diam. Apanya yang diam-diam, aku ingin berbicara denganmu, kata ayah Ji Heon. Ia ingin tahu apakah Ji Heon kembali pada Na Yoon. Ji Heon membantahnya dan meminta ayahnya jangan khawatir.
Ayah Ji Heon khawatir karena ini menyangkut pernikahan Ji Heon. Ji Heon berkata seharian ini ia bekerja sesuai yang diinginkan ayahnya. Jika ayahnya terus mengurusi masalah Na Yoon, ia akan berhenti bekerja.
Kau mengancamku? Baru sehari bekerja kau sudah mengancamku? Tanya ayah Ji Heon tak percaya. Benar, sahut Ji Heon. Ia mengambil ancang-ancang siapa tahu ayahnya akan memukulinya lagi. Tapi ayahnya berkata ia tidak akan mengurusi masalah itu lagi dan pergi ke luar.
Sebelum membuka pintu, ayah Ji Heon meninju gambar Eun Seol hingga robek dan terguling. AYAAAHH!!!! Teriak Ji Heon.
Ayah Ji Heon cepat-cepat membetulkan gambar itu.
Ji Heon mengingat kembali apa yang dilakukannya setelah Eun Seol dan Moo Won pergi. Ternyata ia tak berbicara dengan Na Yoon, malah memata-matai sekretarisnya dan sepupunya. Na Yoon mengikuti Ji Heon dan bertanya apa Ji Heon menyukai Eun Seol. Apa Ji Heon melihat Eun Seol sebagai wanita?
Ia pelan-pelan membaringkan papan Eun Seol yang terpenggal sambil menangis, “Apa yang harus kulakukan? AYAAAHHH!!”
Ji Heon menyingkirkan pikiran itu kuat-kuat dan memukuli papan Eun Seol dengan kesal. Tapi ia cepat-cepat menyadari perbuatannya dan meminta maaf pada papan Eun Seol.
Di taman bermain tadi mereka main bersama.
Moo Won bahkan meminjamkan saputangannya untuk mengelap wajah Eun Seol yang basah terkena air. Eun Seol balas menyuruh Moo Won mengelap wajahnya.
Eun Seol hendak mengembalikan jas Moo Won karena kemeja Moo Won basah hingga menjeplak di dada. Moo Won melihat Eun Seol yang terus memandangi dadanya.
“Apa aku membuatmu tak nyaman?” tanyanya.
“Ah, tidak. Kupikir itu benar-benar bagus,” sahut Eun Seol cepat. Upsss.. Moo Won tertawa geli.
“Maksudku bukan seperti itu. Kalau begitu aku akan terus mengenakan jaketmu,” ujar Eun Seol malu. Ia buru-buru melingkarkan kembai jas Moo Won ke pinggangnya. Moo Won membantunya, Eun Seol terkesiap.
Apalagi Moo Won juga dengan lembut membetulkan rambut Eun Seol yang basah.
Malamnya, Eun Seol terus tersenyum mengingat kejadian itu. Ia terus memandangi jas Moo Won yang sudah tergantung rapi. Myung Ran bertanya apa Eun Seol menyukai pemilik jas itu.
“Lebih dari suka. Tentu saja lebih dari suka.”
“Kalau lebih dari suka, berarti cinta?”
“Direktur Cha Moo Won itu Moo Neunim (Dewa Moo, gabungan Moo Won dan dewa). Setingkat dewa.”
Myung Ran tak mengerti.
“Ini seperti kau melihat Won Bin dan Hyun Bin sebagai dewa. Begitulah keberadaannya,” Eun Seol menjelaskan.
Myung Ran mengangguk mengerti. Rasa suka yang dalam namun tak bisa menyentuh dan memiliki. Eun Seol membenarkan. Myung-ran berpendapat mereka tidak bisa dekat dengan orang-orang seperti Moo Won atau Ji Heon. Semakin dekat akan semakin tertarik. Dan hasilnya pasti buruk. Eun Seol melihat jas Moo Won dan tersenyum kembali.
Ji Heon berbaring di sebelah gambar Eun Seol. Berbagai pertanyaan terus muncul di pikirannya. Apakah ia melihat Eun Seol sebagai wanita? Mungkinkah ia jatuh cinta pada si kepala cepol? Apa ia tak bisa tanpa Eun Seol? Tidak mungkin...tidak mungkin, celoteh Ji Heon. Ia tak bisa tidur semalaman dan berguling-guling hingga beberapa kali jatuh dari kasur.
Keesokan paginya, Eun Seol lagi-lagi kehilangan sebelah sepatunya. Bukan di bar, tapi di bis. Terpaksa ia pergi ke rumah Ji Heon dengan sebelah kakinya mengenakan kantung plastik.
Ia bertemu Presdir Cha di pintu masuk. Eun Seol memberi hormat dan berterima kasih dengan sangat. Presdir Cha bersikap dingin dan berjalan melewati Eun Seol. Tapi tiba-tiba ia berbalik.
“Sekretaris No! Mataku mengawasimu. Kau harus bekerja dengan rajin, mengerti!”
Eun Seol kaget melihat Ji Heon sudah bangun sepagi itu. Tapi ia segera bisa menebak Ji Heon tidak tidur semalaman. Dari mata Ji Heon yang kaya panda.
Eun Seol bertanya alasan Ji Heon tidak bisa tidur tapi Ji Heon tidak menjawab. Ia malah menanyakan sepatu Eun Seol. Eun Seol menceritakan sepatunya tertinggal sebelah di bis.
“Yang mengejutkan adalah aku tidak terkejut lagi dengan hal-hal seperti ini. Berdasarkan banyaknya sepatu yang kau hilangkan, kau bisa masuk rekor dunia.”
Eun Seol mengerutu Ji Heon kan belum pernah naik bis.
“Setiap kali kau mengalami hal yang memalukan, aku merasa senang dan hidup. Kecuali aku gila, bagaimana bisa batu itu tertanam di kepalaku? Karena kau abnormal dan tak tahu malu, aku benar-benar berterima kasih,” celoteh Ji Heon.
Eun Seol tak mengerti perkataan Ji Heon. Ji Heon berkata mereka akan berangkat lebih pagi ke kantor karena moodnya sedang senang. Dia juga menyuruh Eun Seol memilih sepasang sepatu di rak sepatu. Eun Seol melihat jamnya, apanya yang lebih pagi? Eun Seol memilih sepasang sepatu dari lemari.
Presdir Cha meradang saat melihat berita di surat kabar mengenai penunjukan Ji Heon sebagai ahli warisnya.
Ji Heon dan Eun Seol tiba di kantor. Mereka langsung dirubungi wartawan. Eun Seol mencoba menghalangi mereka tapi malah terdorong oleh seorang wartawan.
Ji Heon marah dan meminta wartawan itu meminta maaf pada Eun Seol. Eun Seol minta Ji Heon membiarkan saja tapi Ji Heon bersikeras. Wartawan itu akhirnya meminta maaf. Staf pengaman datang, Ji Heon dan Eun Seol bisa masuk dengan tenang.
Begitu melewati pintu, Ji Heon langsung memeriksa keadaan Eun Seol dengan mengangkat tangan Eun Seol tinggi-tinggi. Saat melihat Eun Seol baik-baik saja, Ji Heon menghentakkan tangan Eun Seol karena malu. Eun Seol menanyakan keadaan Ji Heon. Ji Heon berkata ia baik-baik saja, ia sudah kebal menghadapi hal seperti itu.
Ji Heon berkata Eun Seol pasti takut tapi akan terbiasa nantinya. Ini bukan waktunya mengkhawatirkan aku, sahut Eun Seol. Ji Heon cepat-cepat berkata ia tidak mengkhawatirkan Eun Seol, kepalanya sudah sepenuhnya sadar.
Eun Seol heran melihat tingkah Ji Heon yang aneh tapi ia berterima kasih karena tadi Ji Heon melindunginya.
“Ha! tentu saja.”
“Kau tadi sangat keren.”
“Ha! Ten..” Ji Heon membalikkan badannya. Ia tersenyum melihat senyum Eun Seol. Terpesona lebih tepatnya ^^
Ji Heon menggelengkan kepalanya untuk menyadarkan dirinya kembali. Ia minta Eun Seol tidak salah paham, ia tidak terpikat. Eun Seol bengong.
Presdir Cha menonton berita mengenai Ji Heon bersama Manager Park. Presdir marah dan meminta semua sambungan telepon dimatikan (untuk menghindari wartawan). Manager Park diam-diam tersenyum.
Sebelumnya, Manager Park bertemu dengan ibu Moo Won. Ibu Moo Won menjanjikan masa depan yang bagus bagi Manager Park jika bisa menghasut para pemegang saham untuk memihak Moo Won. Jadi yang membocorkan berita penunjukkan Ji Heon sebagai ahli waris ke media adalah Manager Park atas permintaan ibu Moo Won.
Manager Park berkata pada Presdir bahwa para pemegang saham tidak menyangka penunjukkan secepat ini walau sebelumnya mereka sudah bisa menduga. Sekretaris Presdir berusaha memberi isyarat agar Manager Park berhenti bicara. Tapi Manager Park malah mengusulkan Presdir menemui media dan menyangkal berita ini. Sekretaris juga berpendapat sama. Untuk saat ini sebaiknya menolak berita itu (karena tidak baik untuk saham perusahaan).
“Tidak bisa! Pokoknya tidak!” seru Presdir kesal. Ia akan membiarkan saja berita itu.
Para sekretaris lain membicarakan hubungan Eun Seol dan Ji Heon yang tidak biasa. Mereka pikir penunjukkan X-Man sebagai ahli waris akan membuat Eun Seol sedih. Karena hubungan mereka tidak akan mungkin. Eun Seol yang mendengar celoteh mereka langsung menggebrak meja.
Kedua sekretaris itu membela diri, hubungan Eun Seol dan Ji Heon memang berbeda dengan hubungan sekretaris-boss biasa. Eun Seol meminta mereka memperhatikan baik-baik:
!. jangan bicarakan X-Man, jangan bicarakan hal buruk mengenai Ji Heon. Ji Heon juga atasan dari kedua sekretaris itu.
2. Hubungannya dengan Ji Heon tidak seperti yang mereka kira. Sama sekali tidak!
“Aku bahkan tidak melihatnya sebagai pria, omong kosong apa ini? Apa kalian mengerti?” gerutu Eun Seol. Ternyata Ji Heon mendengarkan perkataan Eun Seol.
Dan tersinggung berat. Eun Seol masuk kantor Ji Heon membawakan teh. Melihat mood Ji Heon yang buruk, ia pikir Ji Heon memikirkan pemberitaan buruk di luar sana. Ia mencoba menghiburnya. Tapi Ji Heon sama sekali bukan memikirkan hal itu.
Ia mendekati Eun Seol dan terus berjalan maju hingga Eun Seol terpaksa berjalan mundur. Eun seol bertanya apa yang sedang Ji Heon lakukan.
“No Eun Seol, nomor KTP-ku dimulai dari angka 1 (menandakan pria, wanita dimulai dengan angka 2). Jadi jika aku bukan pria, maka aku siapa?”
Eun Seol menebak Ji Heon sudah mendengar perkataannya. Salah sendiri Ji Heon menguping.
“Diam, tadi pagi kau bilang aku keren. Kau tidak konsisten.”
Eun Seol menjelaskan, ia hanya merasa Ji Heon keren pada saat itu saja. Ji Heon mendekatkan wajahnya ke wajah Eun Seol. Eun seol protes.
“Kau tidak melihatku sebagai pria dan aku tidak melihatmu sebagai wanita, jadi apa masalahnya?” goda Ji Heon. Eun Seol memalingkan wajahnya namun Ji-heon terus mengikuti.
Ia menatap wajah Eun Seol dan dadanya mulai berdegup kencang. Ia memegangi dadanya, tak menyangka reaksinya akan seperti ini. Keduanya bertatapan, tanpa sadar Ji Heon semakin mendekati Eun Seol.
DAAK!! Eun seol membenturkan kepalanya ke kepala Ji Heon lalu memiting lengan Ji Heon. Pipi mereka sempat bersentuhan. Keduanya tertegun. Tapi Eun Seol buru-buru mendorong Ji Heon menelungkup di meja sambil terus memiting lengannya. Ia minta Ji Heon tidak bermain-main seperti itu lagi dengannya.
Awalnya Ji Heon mengaduh-aduh kesakitan tapi ia lalu tertawa.
“No Eun Seol, apa kau tadi merasa gugup?”
Eun Seol menyangkalnya tapi Ji Heon tak percaya dan menyuruh Eun Seol mengaku. Eun seol kesal dan mendorong Ji Heon hingga terjatuh ke lantai. Ia mengancam jika Ji Heon bermain-main seperti ini lagi, ia akan mematahkan semua tulang Ji Heon. Eun Seol keluar meninggalkan Ji Heon yang tersenyum.
“Dia jelas-jelas senang,” gumam Ji-heon. Tapi ia lalu sadar, “Apa aku benar-benar sudah gila?”
Na Yoon sedang minum kopi bersama Moo Won di halaman kantor. Na Yoon akan segera bekerja di kantor ini dan dengan demikian menjadi keluarga. Na Yoon ingin membicarakan perjodohan mereka.
“Aku menolaknya,” ujar Moo Won. Na Yoon terkejut. Moo Won menjelaskan bahwa ia juga tidak ingin sebuah pernikahan tanpa cinta. Mereka akan memberitahu orang tua mereka pelan-pelan.
Na Yoon tampak sedikit tersinggung. “Mengapa kau menolaknya?”
“Bukankah kau tidak menyukai perjodohan itu?” tanya Moo Won.
“It…itu bukan karena aku tidak menyukainya, tapi…lupakan saja!” sahut Na Yoon kesal.
Moo Won bertanya apa Na Yoon tidak akan menemui Ji Heon dulu sebelum pulang. Na Yoon khawatir harga dirinya terluka lagi jika menemui Ji Heon. Tepat saat itu Eun Seol keluar sambil mencak-mencak, masih kesal dengan sikap Ji Heon tadi. Ia tidak melihat Na Yoon dan Moo Won duduk tak jauh dari tempatnya berdiri.
Na Yoon buru-buru menutupi wajahnya dengan cangkir kopi. Sementara Moo Won senang melihat tingkah Eun Seol. Na Yoon bertanya-tanya apa yang Eun Seol lakukan, ia sengaja memilih tempat ini agar tidak bertemu Eun Seol.
Eun Seol melihat dua kaleng kosong minuman di dekat kakinya. Ia mengambil satu lalu menendangnya jauh-jauh. Moo Won terkesan dengan tendangan Eun Seol yang keren. Eun Seol mengambil kaleng satu lagi dan menendangnya. Tendangan bagus dan tepat mengenai dahi Na Yoon. haha
Na Yoon menjerit. Eun Seol buru-buru menghampiri. Ia minta maaf, ia benar-benar tidak sengaja kali ini. Ia bertanya apa Na Yoon baik-baik saja. Dengan wajah memelas Na Yoon memperlihatkan dahinya pada Moo Won.
“Tidak apa-apa, dahinya tidak terluka,” jawab Moo Won menenangkan Eun Seol. Na Yoon protes.
Eun Seol merasa tak enak, Eun Seol menawarkan dahinya untuk dipukul Na Yoon. Na Yoon tercengang. Sementara Moo Won tertawa terbahak-bahak. Bagaimana bisa kau tertawa, tanya Na Yoon tak percaya. Moo Won tak bisa berhenti tertawa.
Saat malam harinya Eun Seol berbelanja dengan Myung Ran, mood Eun Seol belum membaik. Dengan kesal ia mematahkan timun di supermarket. Sekretaris Kim (sekretaris lama Ji-heon) mendekati mereka dan menyuruh Eun Seol membeli timun itu.
Keduanya saling mengenali. Sekretaris Kim buru-buru memegangi lehernya, dan mengatakan bahwa ia tidak ingat apapun. Ia buru-buru berbalik pergi.
“Tunggu!” seru Eun Seol.
“Aku tidak ingat. Aku tidak ingat apapun!” seru Sekretaris Kim panik.
Eun Seol berkata ia sudah boleh mengingatnya. Status kepala cepolnya sudah diketahui. Sekretaris Kim kaget, sudah diketahui? Eun Seol membenarkan, ia minta maaf atas sikapnya waktu itu.
Eun Seol memberitahu Myung Ran, ia mendapat pekerjaan karena sekretaris Kim keluar. Ia berterima kasih pada Sekretaris Kim. Sekretaris Kim memberi semangat pada Eun Seol, merasa kasihan mengira Eun Seol akan diperlakukan buruk oleh Ji Heon seperti dirinya.
Ji Heon pulang ke rumah mendapati neneknya duduk di kebun, marah dengan anjing. Ia berbisik pada pelayan yang kebetulan lewat, ada apa dengan neneknya. Ternyata karena sepasang sepatu nenek hilang. Ji Heon terkesiap, ia diam-diam masuk ke rumah agar tidak diinterogasi neneknya.
Sementara itu nenek Ji Heon menuduh anjingnya mengambil sepatu itu dan menyuruh anjing itu mengaku di mana ia menyembunyikan sepatunya. Sepatunya tidak bisa digunakan sembarang orang.
Ji Heon berusaha melupakan kejadian di kantor tadi dengan bekerja. Ayahnya yang diam-diam mengintip sangat senang melihat anaknya begitu rajin. Ayah Ji Heon melapor pada nenek. Ia tadinya berpikir Ji Heon orang yang tidak punya pendapat sama sekali tapi ternyata ia melihat Ji Heon bekerja… bekerja!! Nenek mau tak mau tersenyum melihat kegembiraan anaknya.
Presdir Cha langsung mengadakan rapat darurat. Eun Seol bertugas membagikan minuman pada rapat itu. Saat keluar dari ruang rapat, ia bertemu dengan nenek Ji Heon. Ia langsung menyapanya.
Nenek Ji Heon melihat sepatu yang dipakai Eun Seol. Itu adalah sepatunya, tapi ia tidak mengatakan apapun. Eun Seol menanyakan maksud kedatangan nenek. Nenek menjawab ia sedang menjalankan tugas. Nenek, kau keren, puji Eun Seol.
“Omo…tas itu! Apakah tas itu bermerk?” tanya Eun Seol melihat tas nenek yang bagus.
“Ohh…itu…sebenarnya..”
“Palsu ya?” tanya Eun Seol, “Tidak apa-apa, Nek. Aku juga memiliki banyak barang palsu. Nenek, nanti kita bicara lagi ya..”
Nenek hanya mesem-mesem. haha
Kedua sekretaris lain melihat perbincangan mereka dari jauh dan merasa iri. No Eun Seol benar-benar hebat, bagaimana bisa ia memanggil “Nenek” pada ibu dari Presdir.
Dalam rapat, semua membicarakan keberatan mereka dengan berita terakhir dan kejadian saat ulang tahun perusahaan. Presdir Cha menghentikan protes mereka. Ia mengerti kekhawatiran mereka tapi ia, Cha Bong Man, selalu melakukan apa yang sudah dikatakannya. Ia sanggup mempertaruhkan jabatannya dan akan membentuk si berandal menjadi pebisnis handal. Jika gagal, ia sendiri yang akan mengusir Ji Heon dari kantor.
Ibu Moo Won menginterupsi, “Bukankah ada Direktur Cha Moo Won?” Presdir Cha tanya mengapa ibu Moo Won memotong pembicaraannya.
“Karena pidatomu terlalu panjang, Presdir. Direktur Cha Moo Won mendapat peringkat pertama chaebol generasi kedua tahun kemarin.”
Ia tak mengerti mengapa menunjuk orang yang jelas-jelas tidak berkemampuan dibandingkan dengan orang yang kemampuannya diakui dan dipercaya orang lain. Nenek Ji Heon angkat bicara.
Walau ia tidak ingin ikut campur tapi jika Presdir sudah memutuskan, ia ingin mengikuti keputusan Presdir. 25 tahun yang lalu, ketika ia menunjuk putra keduanya, Cha Bong Man, sebagai pewaris perusahaan, seluruh dunia seperti jungkir balik. Saat itu semua membicarakan bagaimana bisa perusahaan diserahkan pada seorang berandalan, juga banyak yang bilang perusahaan akan bangkrut dalam waktu setahun.
Ji Heon tertawa cekikikan mendengar masa lalu ayahnya. Nenek Ji Heon berkata ia juga bertanggung jawab atas kekisruhan saat itu dan sebagai orangtua, ia harus menanggungnya. Tapi, perusahaan menjadi kuat berkat Presdir. Jadi ia minta semua percaya pada Presdir, menunggu dan melihat hasilnya.
“Bagaimana jika gagal? Bagaimana jika ia membawa kerugian pada perusahaan? Saat itu siapa yang bertanggung jawab?” tanya ibu Moo Won.
“Aku! Aku yang akan bertanggung jawab. Aku akan menggunakan jabatanku sebagai jaminannya,” sahut Presdir. Ji Heon terhenyak. Moo Won juga.
Ibu Moo Won membalikkan kata-kata Presdir. Kalau begitu jika proposal taman hiburan tidak disetujui maka Presdir yang akan bertanggung jawab. Presdir tidak bisa mengatakan apa-apa lagi.
Selesai rapat. Ayah Ji Heon menemui ibu Moo Won. Ia ingin berbicara tapi ibu Moo Won tidak mau. Ibu Moo Won melangkah ke dalam lift, ayah Ji Heon mengikuti. Ibu Moo Won keluar, ayah Ji Heon mengikuti. Ibu Moo Won masuk kembali ke dalam lift, untung ayah Ji Heon sempat masuk sebelum pintu menutup.
“Seok Hee, jangan lakukan ini. Aku juga memiliki rencana sendiri. Aku akan memperlakukan Moo Won dengan baik,” kata ayah Ji Heon.
Ibu Moo Won tidak percaya. Presdir Cha berkata ia juga memberi bagian yang besar pada kakaknya (ayah Moo Won) waktu itu. Ia minta ibu Moo Won jangan serakah. Ia mengakui kemampuan ibu Moo Won yang telah membangkitkan perusahaan di saat hampir bangkrut tapi ia minta perselisihan ini dihentikan dan hidup damai. Sepertinya ibu Moo Won tidak sependapat.
Malam itu Presdir Cha dan Ji Heon tidak bisa tidur. Jabatan Presdir dipertaruhkan saat ini. Ji Heon memutuskan untuk menyelamatkan jabatan ayahnya. Ia menghampiri papan Eun Seol dan meminta agar tidak menganggu untuk sementara. “Menghilanglah dari otakku untuk sementara, mengerti?”
Ayah Ji Heon masuk dan mengingatkan Ji Heon untuk berusaha keras agar kemampuannya diakui. Dan berkali-kali ayah Ji Heon mengingatkan Ji Heon bahwa jabatannya sedang dipertaruhkan.
Ji Heon bekerja keras dibantu oleh Eun Seol. Eun Seol memikirkan ide apa yang akan dimasukkan Ji Heon dalam proposalnya. Ia menulis: Kenangan. Ji Heon ingat cerita Eun Seol mengenai ayahnya di taman bermain. Tiba-tiba ia mendapat ide.
Saat ia melihat Eun Seol untuk memberitahu idenya, ternyata Eun Seol sudah tertidur. Ji Heon menyandarkan Eun Seol ke kursi dan tersenyum puas karena sudah menjadi bos yang baik.
Pagi harinya Eun Seol bangun mendapati ia tidur semalaman di kantor Ji Heon sementara Ji Heon tidak tidur. Dengan bangga Ji Heon memperlihatkan proposalnya. Eun Seol berlari mengambil proposal itu dari tangan Ji Heon dan membacanya.
Ia memuji proposal itu isinya bagus. Ji Heon memuji dirinya sendiri, jika ia sudah bertekad melakukan sesuatu maka ia bisa melakukan apapun. Eun Seol tersenyum sambil menggaruk-garuk kepala.
Melihat penampilan Eun Seol yang berantakan Ji Heon mengerutkan kening dan menggerutu, “Kau ini tidak bisa berubah ya.” Lalu ia tersenyum.
Na Yoon menemui Ji Heon untuk menanyakan proposal taman hiburan. Ia terkejut saat tahu Ji Heon telah menyelesaikan proposal itu.
Sementara itu Eun Seol menemui Moo Won di kantornya untuk mengembalikan jas Moo Won. Moo Won tak bisa berhenti tersenyum melihat Eun Seol berceloteh. Akhirnya ia mengajak Eun Seol makan siang. Eun Seol berkata ia harus minta ijin Ji Heon.
Eun Seol menelepon Ji Heon (yang masih bersama Na Yoon). Ji Heon memberi ijin untuk kali ini saja tapi Eun Seol harus segera kembali. Na Yoon menerka Eun Seol yang menelepon. Ji Heon mengajak Na Yoon segera pergi.
“Jika kau berdiri, aku akan menangis dan menunjuk-nunjuk padamu,” ancam Na Yoon.
Ji-heon bengong. Na Yoon mulai menangis.
“Dengarkan aku, Seo Na Yoon,” kata Ji Heon. Na Yoon langsung menyimak.
“Ketika kita pertama kali bertemu setelah kau kembali, aku memang terpengaruh. Saat itu aku juga khawatir. Tapi aku langsung melupakannya.”
Senyum Na Yoon langsung hilang. Ji Heon berkata semua itu hanya sesaat dan ia tidak pernah memikirkan Na Yoon lebih. Sepertinya orang ini (Ji-heon menunjuk dirinya sendiri) melupakan semua tentang Na Yoon. Na Toon tertegun. Ji Heon langsung meninggalkan Na Yoon.
Ji Heon berjalan sambil berusaha menghindari benturan dan sentuhan orang lain. Tapi ia kaget saat melihat melalui sebuah jendela restoran. Eun Seol dan Moo Won.
Moo Won menanyakan proposal Ji Heon. Eun Seol menjawab proposal itu sudah selesai. Sunggguh melegakan, sahut Moo Won. Ji Heon menelepon Eun Seol dan bertanya dengan siapa Eun Seol makan siang. Berarti Eun Seol cuma minta ijin makan siang di luar kantor, bukan minta ijin makan dengan Moo Won. Pantes aja Ji Heon mengijinkan. haha
“Jangan bilang kau sedang makan dengan rival terbesarku, Cha Moo Won.”
“Eh…apa ada sesuatu di kantor?” tanya Eun Seol.
“Tidak, aku hanya penasaran kau makan dengan siapa.”
Eun seol pura-pura sinyal ponselnya jelek dan tidak bisa mendengar suara Ji Heon. Tentu saja Ji Heon melihat tingkah Eun Seol dan kesal sekali. Moo Won juga tidak tahu Ji Heon ada di luar. Ia tersenyum geli melihat Eun Seol.
Ji Heon menelepon Eun Seol kembali. Kali ini Eun Seol melihat wajah Ji Heon di jendela. Eun Seol terbelalak kaget. Terpaksa ia mengangkat telepon Ji Heon. Ji Heon menyuruh Eun Seol keluar sekarang juga.
Eun Seol kebingungan. Moo Won meminta telepon Eun Seol. Ia bertanya apa Ji Heon mau ikut makan. Ji Heon membantah. Moo Won menutup teleponnya. Ji Heon menghambur masuk ke restoran, diikuti Na Yoon yang ternyata mengikuti Ji Heon.
Ji Heon menyuruh Eun Seol keluar bersamanya sekarang juga. Ji Heon menuduh Moo Won mencari informasi proyeknya melalui Eun Seol. Ia lalu menarik kerah Eun Seol hingga Eun Seol berdiri. Moo Won berdiri dan menepis tangan Ji Heon. Ia berkata pada Eun Seol bahwa ia akan menraktir lain kali. Dua kali.
Moo Won lalu berbicara pada Ji Heon. Setiap kali Ji Heon bersikap seperti ini, ia akan menggandakan ajakannya. Jadi ia akan senang jika Ji Heon menginterupsi lain kali. Berarti ia akan menraktir Eun Seol 4 kali. Ji Heon kehabisan kata-kata.
Moo Won pergi meninggalkan mereka. Ji Heon juga membawa Eun Seol keluar dari restoran. Tersisa Na Yoon yang tak dipedulikan sama sekali.
“Apa aku ini tak terlihat?!” rengeknya.
Na Yoon menangis di kantornya. Ia berhenti menangis saat ibunya masuk. Ibu Na Yoon menerka Na Yoon menangis karena Ji Heon. Ia menasihati Na Yoon agar tidak menaruh semua telur dalam 1 keranjang. Artinya jangan menaruh harapan pada satu orang saja. Ia ingin Na Yoon dekat baik dengan Moo Won maupun dengan Ji Heon. Mereka akan melihat siapa pemenang dari keduanya.
Na Yoon mengeluh keduanya tidak mempedulikannya. Keduanya hanya memperhatikan satu wanita. Ibu Na Yoon menghela nafas kesal, putri keluarga mana?
Nenek Ji Heon mengecek resume Eun Seol.
Ayah Ji Heon kehilangan selera makan tapi nenek memarahinya. Jika menyisakan makanan maka keberuntungannya akan pergi. Ayah Ji Heon memutuskan ia memerlukan keberuntungan saat ini, jadi ia mulai makan dengan lahap. Bagus, keberuntunganmu baru saja kembali, ujar nenek.
Ayah Ji Heon memberi semangat pada anaknya. Rapat akan diadakan lusa. Jika Ji Heon mempresentasikannya dengan baik maka semua baik-baik saja.
“Presentasi? Aku bukan hanya harus membuat proposal tapi mempresentasikannya?!”
Ayah Ji Heon berkata itulah yang biasanya dilakukan dalam rapat, mungkin Ji Heon tidak tahu karena tidak pernah mengikuti rapat hingga akhir. Ji Heon melongo. Ayah Ji Heon memberi saran agar Ji Heon mempresentasikan cara untuk meningkatkan pendapatan dan juga rencana jangka panjang akan lebih baik daripada rencana jangka pendek. Setelah ayahnya keluar, Ji Heon masih melongo.
Keesokan harinya, Ji Heon memasuki ruang rapat yang kosong. Ia ingat saat melakukan presentasi. Tatapan-tatapan orang dan reaksi mereka. Meremehkan, menertawakan, kekecewaan ayahnya. Waktu itu Ji Heon berteriak memohon.
“Kumohon,” gumam Ji Heon dengan mata berkaca-kaca. Ia mengetuk meja rapat yang kosong. Ia menyadari, inilah kelemahannya.
Dalam perjalanan pulang, Eun Seol kaget saat Ji Heon berkata tidak mau melakukan presentasi. Kau sudah tahu penyebabnya, ujar Ji Heon lelah. Eun Seol berpikir keras.
Ia menyeret Ji Heon ke kedai makguli (minuman beralkohol hasil fermentasi). Ji Heon tidak mau meminumnya tapi Eun Seol memaksanya. Eun Seol tidak habis pikir mengapa Ji Heon mudah menyerah.
Dulu ia melakukan banyak pekerjaan kecil. Ini pertama kalinya ia mendapat pekerjaan bagus seperti ini. Ia tidak bisa mengerti orang yang mudah menyerah. Setelah semua usaha keras yang mereka lakukan dalam membuat proposal itu.
Ia benar-benar kesal. Eun Seol menggebrak meja dengan tinjunya. Ji Heon meminta Eun Seol berhati-hati dengan tinjunya. Eun Seol berharap bisa menyadarkan Ji Heon, ia gemas ingin mengayunkan tinjunya.
“Aku memberimu ijin. Lakukanlah.” Ji Heon menyodorkan pipinya.
Buk!! Eun Seol beneran meninju Ji Heon. Ia minta Ji Heon melakukan presentasi. Ji Heon jadi ketakutan ditinju Eun Seol lagi.
Ji Heon mengaku tak bisa berbicara di depan orang banyak. Melihat Eun Seol tak terkejut, Ji Heon menebak Eun Seol sudah tahu. Eun Seol mengangguk.
“Benar-benar No Eun Seol. Kau ini tidak tahu yang seharusnya kau ketahui (perasaan Ji Heon) tapi kau mengetahui yang seharusnya tidak kau ketahui (fobia Ji Heon),” gerutu Ji Heon. Ia menyadari tidak akan bisa menjadi pewaris. Ia tidak bisa menjadi Presdir.
Eun Seol mengusulkan agar Ji Heon tidak perlu memperlihatkan wajah seperti penyanyi-penyanyi latar. Bagaimana bisa seorang Presdir tidak memperlihatkan wajah, tanya Ji Heon. Eun Seol berjanji akan menemukan cara. Tidak ada, kata Ji Heon. Pasti ada jalan keluarnya, kata Eun Seol. Tidak ada, jawab Ji Heon.
Eun Seol menceritakan seorang presdir yang selama 17 tahun berpikir bahwa dia adalah seorang idiot. Ternyata waktu kecil, gurunya salah menulis IQ-nya 73, padahal seharusnya 173. Ia mengira dirinya seorang idiot ber-IQ 73. Ji Heon menyebut orang itu bodoh, bagaimana bisa tidak mengetahui diri sendiri pintar atau idiot. Eun Seol membenarkan, orang pintar pun begitu. Hanya karena semua orang bilang ia idiot, ia mempercayainya selama bertahun-tahun.
Ji Heon bertanya apa maksud Eun Seol menceritakan hal itu. Apa ia seperti si presdir yang baru menyadari dirinya jenius? Eun Seol menjelaskan, ia ingin Ji Heon menjalani hidup sesuai dengan pandangan Ji Heon sendiri. Sama seperti dirinya yang terus meyakinkan diri sendiri bahwa ia bisa mendapatkan pekerjaan dan melakukan pekerjaan ini, akhirnya ia benar-benar bisa. Ji Heon berkata impian Eun Seol sangat sederhana. “Benar, impian sederhanaku saat ini adalah menyelesaikan proposal pada rapat besok.” Ia berjanji akan mencari cara bagaimanapun juga.
Keduanya minum makguli hingga Ji Heon mabuk. Eun Seol minta diantar ke rumahnya dan duduk di samping Ji Heon. Ji Heon tiba-tiba menatap Eun Seol.
“Rasanya seperti jatuh ke dalam,” ujar Ji Heon.
“Apa?” tanya Eun Seol.
“Batu semesta jatuh melesak ke dalam sistem limbik amigdala otakku.”
Eun Seol tak mengerti. Ji Heon menunjuk kepala Eun Seol, sebuah batu melesak ke dalam sistem limbik otak. Eun Seol berkata tinjunya memang seperi batu tapi tidak ada yang bilang otaknya seperti batu. Ji Heon tertawa. Lalu menyandarkan kepalanya di bahu Eun Seol.
Eun Seol mencari apa itu sistem limbik amigdala di internet. Ia menjelaskan pada Myung Ran sepertinya itu berkaitan dengan perasaan dan emosi seseorang. Dan Ji Heon berkata sebuah batu telah masuk ke dalamnya. Eun Seol merasa mengerti maksud Ji Heon tapi ia akan menganggap tidak tahu apa-apa.
Baginya yang terpenting saat ini adalah menjalankan presentasi dengan sukses. “Pasti ada jalan keluarnya.” Ia menepuk kepalanya dengan kesal, “Pasti ada solusinya.”
Keesokan harinya, Ji Heon tidak muncul juga dalam rapat. Padahal semua sudah menunggu. Para peserta rapat mengomel. Terpaksa rapat dimulai tanpa Ji Heon.
Eun Seol keluar dari taksi yang tertahan jalanan macet dan berlari membawa sesuatu. Moo Won memulai presentasinya. Ia menganggap penting saat ini untuk memperbaiki image perusahaan yang sedang jatuh.
Eun Seol terus berlari. Moo Won sudah selesai dengan presentasinya. Ibunya bertepuk tangan penuh kemenangan. Sekretaris Jang (sekretaris ayah Ji Heon) mengumumkan presentasi Ji Heon diundur pada rapat berikutnya. Presdir Cha menarik nafas putus asa.
Tiba-tiba pintu ruang rapat terbuka dan Eun Seol berlari ke dalam. Ia membisikkan sesuatu pada Sekretaris Jang, lalu menyalakan laptop. Wajah Ji Heon muncul di layar.
“Maaf, aku terlambat. Kita mulai sekarang?” Ji Heon tersenyum.
Semua terkejut. Moo Won terlihat kesal. Eun Seol tersenyum senang.






















0 comments:
Posting Komentar